Wednesday, September 8, 2010
Monday, September 6, 2010
MENCARI PATRIOTISME INDONESIA KINI
Di Tiongkok kita juga bisa mengenal patriotisme ala kependekaran-pedang (swordmanship). Para pendekar pedang digambarkan juga sebagai orang-orang yang berjiwa luhur justru karena keberaniannya untuk membela rakyat dan negeri sampai sehabis-habisnya.
Pada umumnya gambaran seorang yang memiliki jiwa patriotis itu adalah orang-orang yang mencintai tanah airnya sampai titik darah penghabisan. Mereka tidak
hanya sekedar mencintai keluarga, sanak kadang dan kelompok kroninya, tetapi mencintai tanah air setuntas-tuntasnya. Artinya, mencintai tanah air tidak
hanya sekedar mencintai daerah, wilayah, pulau, negeri dalam arti geografis, tetapi lebih dari itu adalah mencintai rakyat seluruh negeri. Kebahagiaan seorang
patriot adalah kebahagiaan orang yang melihat kedamaian, kesejahteraan dan keadilan bagi seluruh rakyatnya.
Dalam upaya menumbuhkan patriotisme itu, di Indonesia pernah digembar-gemborkan semangat empat lima. Atau ada beberapa ahli yang menggalinya dari khasanah wayang Jawa dengan istilah Tri Pama (Tiga Teladan) yang menunjuk pada semangat patriotisme Kumbakarna, Sumantri dan Basukarna. Masih relevankah semangat empat lima, dan semangat "tri pama" bagi patriotisme
Indonesia di jaman globalisasi ini?
Kalau diambil saripati patriotisme sebagai semangat cinta tanah air dan seluruh rakyatnya, tentulah kita masih mengakui relevansinya. Tetapi pertanyaan yang
lebih urgen lagi bagi penulis adalah mengapa jiwa dan semangat patriotisme yang demikian terdengar asing di jaman kita ini? Mengapa semangat patriotisme yang
penuh pelayanan bagi keadilan, kesejahteraan dan perdamaian rakyat Indonesia tidak tumbuh subur?
Penulis melihat beberapa faktor yang sangat mempengaruhi terhadap kemiskinan patriotisme di Indonesia sekarang ini.
Pertama, dominasi militerisme yang terlalu kuat di jaman Orde Baru. Militerisme di jaman Orde Baru telah menggeser semangat patriotisme yang merakyat.
Slogan-slogan seperti semangat empat lima, persatuan dan kesatuan bangsa, telah dipakai untuk membenarkan segala tindakan yang pada dasarnya untuk kepentingan segelintir orang saja. Hutan-hutan sudah dikapling-kapling, penjarahan secara nasional terhadap aset-aset ekonomi, pengabaian norma-norma kemanusiaan telah dibenarkan oleh slogan-slogan yang sarat untuk
melindungi penguasa. Di sinilah tumbuhnya semangat "suhartoisme" yang memuja harta, kuasa dan pangkat merebak bagai virus yang menggerogoti seluruh sendi
kebangsaan kita.
Kedua, gelombang dahsyat kesadaran akan nilai hakiki kemanusiaan. Globalisasi tidak hanya membawa kepentingan para pemodal internasional, tetapi secara
positif mau tidak mau harus diakui telah menumbuhkan pula kesadaran global akan nilai-nilai kemanusiaan.
Segala isme- termasuk di sini jenis patriotisme sempit ala militer - yang diwarnai oleh genocide dan penindasan terhadap kemanusiaan telah dianggap musuh
dunia. Bagi rakyat Indonesia kiranya pengalaman sepanjang Orde Baru yang didominasi militer telah memberi pelajaran berharga tentang apa artinya
patriotisme sejati. Rakyat belajar mulai mengerti pengkhianatan-pengkhianatan yang sedang dilakukan para pemimpin dengan menginjak-injak hak-hak sipil. Rakyat justru sedang bergerak dalam pemahaman patriotisme yang menjunjung hak-hak asasi manusia.
Ketiga, dominasi kaum pengkhianat negeri yang kian merajalela. Kategori "pengkhianat" di sini dilawankan dengan kategori "patriot pelayan" bagi bangsa dan tanah air. Pengkhianat lebih mementingkan kepentingan kelompok dan kroninya daripada kepentingan seluruh rakyat. Tetapi, kondisi kesenjangan politis telah menempatkan rakyat pada posisi ketidakberdayaan.
Artinya sistem tetap memihak pada kepentingan kroni, partai dan kelompok tertentu daripada kepentingan umum. Kesenjangan yang demikian menimbulkan antipati masyarakat pada politik. Di samping itu, kekosongan gambaran patriotisme yang seharusnya dimainkan oleh para pemimpin dan elit politik kita kian makin kentara dan terasa.
akan menyuburkan bagi tumbuhnya semangat patriotisme sejati di bumi Indonesia. Sebaliknya, iklim pendidikan yang demikian hanya akan menyuburkan tumbuhnya para militan pengkhianat negeri. Sangat disayangkan, sekolah-sekolah yang sangat positif menumbuhkan semangat patriotisme Indonesia seperti Taman Siswa
malahan seperti kurang mendapat perhatian semestinya.
Sekolah-sekolah yang diselenggarakan oleh pemerintah telah menjadi ajang perebutan pengaruh kelompok sektarian.
Keempat faktor itu kiranya cukup memberikan alasan mengapa patriot-patriot sejati kini sangat jarang dilahirkan di bumi Indonesia. Kita mungkin butuh
mengembangkan semangat "samurai" atau "swordmanship" yang lebih menjawab tantangan jaman sekarang ini.
Semangat patriotisme semacam apa itu?
Penulis ingin menyebutnya semangat patriotisme kemanusiaan. Itulah kiranya yang sekarang ini sangatkita butuhkan. Semangat patriotisme kemanusiaan tidak
hanya menjadi monopoli sipil saja, tetapi juga bisa ditumbuhkan dalam tubuh tentara-tentara profesional kita. Semangat itu perlu ditandai oleh
karakter-karakter luhur seperti keberanian membela tanah air dan rakyat sehabis-habisnya, menjunjung nilai keadilan bagi segenap rakyat Indonesia,
menjunjung nilai perdamaian demi kesejahteraan seluruh rakyat Indonesia. Sebaliknya, karakter-karakter pengkhianat perlu dienyahkan dari generai para
pemimpin bangsa sekarang ini. Karakter-karakter itu antara lain penipu dan pendusta publik, korup dan sewenang-wenang, penyogok keadilan, antek keserakahan yang menyengsarakan rakyat. Masih bisa dijereng lebih
panjang lagi litani semangat patriotisme sejati dan litani virus karakter pengkhianat negeri.
Penulis masih memiliki harapan. Di tengah galau dan kacaunya negeri ini, takkan terhalau semangat patriotisme sejati dari bumi pertiwi. Semoga jiwa emas
pun lahir ditengah-tengah lumpur elit negeri ini.
17 Februari 2004
Peduli Lingkungan
Terus apa yang bisa kita lakukan? sebenarnya banyak hal yang bisa kita kerjakan, salah satu contoh “Batagor” sudah sampai jilid dua peduli pada lingkungan, moga-moga dalam waktu yang gak terlalu lama jilid tiga segera terwujud.
Diperempatan atau simpangan jalan yang dilengkapi lampu pengatur lalu lintas, lampu “bangjo” kata saudara-saudara kita dari Jawa, maksudnya Abang (=merah) dan Ijo (=hijau), kenapa kuningnya gak disebut ya? Dibeberapa tempat sudah dilengkapi dengan penunjuk waktu, sehingga para pengguna jalan bisa memperkirakan berapa detik akan kena merah atau berapa detik akan jalan karena lampu hijau. Bila saja pada saat berhenti (lampu merah) semua kendaraan bermotor di persimpangan mematikan mesinnya dan dinyalakan lagi pada angka 3-5 detik menjelang lampu hijau, berapa persen pencemaran udara karena knalpot kendaraan bermotor yang bisa dikurangi, hitung sendiri deh.
Di era teknologi yang makin janggih ini, banyak sekali inovasi-inovasi menuju ke hal yang positif, praktis. Kita coba ambil contoh, kebanyakan kita tidak lagi menggunakan sapu tangan tetapi mengganti dengan “tissue” demi efisiensi dan kepraktisan. Kalau dulu, jamannya sapu tangan, setelah dipakai dan kotor lalu dicuci untuk digunakan kembali. Pengguna tissue, sekali pakai lalu buang, dan sering-seringnya dibuang sembarangan. Bila pengguna tissue satu hari menggunakan satu pak yang isinya lima lembar, berapa banyak pengguna tissue di kota Bandung? tinggal dikalikan, berapa banyak yang nyampah dari tissue saja.
Kasus lain adalah penggunaan kantong plastik (keresek) sebagai pengganti kantong kertas atau daun, alhamdulillah saat ini beberapa toko sudah mengurangi bahkan meninggalkan penggunaan plastik diganti dengan bahan yang lebih ramah lingkungan.
Mari kita peduli pada lingkungan, mulai dari yang kecil, mulai pada diri sendiri dan mulai sekarang.
*Sumber : blog sebelah