Oleh Tangkisan Letug
Ada banyak tokoh-tokoh patriotisme Indonesia yang pantas menjadi teladan
bagi pencarian patriotisme jaman
sekarang ini. Di saat jaman kita ini dipenuhi oleh banyak pemimpin yang tidak
tahu diri, banyak elit politik yang main-main dengan bumi pertiwi, dan masih banyak
antek pemuja berhala "su-harto" (baca: harta
kenikmatan kuasa), makin terasalah kebutuhan untuk mencari dan
membangkitkan patriotisme yang selaras dengan gerak jaman.
Kita mengenal patriotisme ala samurai di Jepang, yang ditandai oleh jiwa keberanian mengorbankan nyawa demi membela dan
melindungi bumi pertiwi dan segenap masyarakatnya. Para samurai dianggap
berjiwa agung bukan karena keberaniannya membunuh tanpa belas kasihan, tetapi
karena dengan pengorbanannya mereka tidak hanya menjunjung cinta pada tanah air
saja,
tetapi terlebih untuk melayani hidup dan kedamaian seluruh penduduknya.
Yang dikurbankan tidak hanya diri sendiri, tetapi juga harta. Dalam istilah
jawa hal ini
dikenal sebagai jiwa
berkurban tanpa pamrih.
Di Tiongkok kita juga bisa mengenal patriotisme ala kependekaran-pedang (swordmanship). Para pendekar pedang digambarkan juga sebagai orang-orang yang berjiwa luhur justru karena keberaniannya untuk membela rakyat dan negeri sampai sehabis-habisnya.
Pada umumnya gambaran seorang yang memiliki jiwa patriotis itu adalah orang-orang yang mencintai tanah airnya sampai titik darah penghabisan. Mereka tidak
hanya sekedar mencintai keluarga, sanak kadang dan kelompok kroninya, tetapi mencintai tanah air setuntas-tuntasnya. Artinya, mencintai tanah air tidak
hanya sekedar mencintai daerah, wilayah, pulau, negeri dalam arti geografis, tetapi lebih dari itu adalah mencintai rakyat seluruh negeri. Kebahagiaan seorang
patriot adalah kebahagiaan orang yang melihat kedamaian, kesejahteraan dan keadilan bagi seluruh rakyatnya.
Dalam upaya menumbuhkan patriotisme itu, di Indonesia pernah digembar-gemborkan semangat empat lima. Atau ada beberapa ahli yang menggalinya dari khasanah wayang Jawa dengan istilah Tri Pama (Tiga Teladan) yang menunjuk pada semangat patriotisme Kumbakarna, Sumantri dan Basukarna. Masih relevankah semangat empat lima, dan semangat "tri pama" bagi patriotisme
Indonesia di jaman globalisasi ini?
Kalau diambil saripati patriotisme sebagai semangat cinta tanah air dan seluruh rakyatnya, tentulah kita masih mengakui relevansinya. Tetapi pertanyaan yang
lebih urgen lagi bagi penulis adalah mengapa jiwa dan semangat patriotisme yang demikian terdengar asing di jaman kita ini? Mengapa semangat patriotisme yang
penuh pelayanan bagi keadilan, kesejahteraan dan perdamaian rakyat Indonesia tidak tumbuh subur?
Penulis melihat beberapa faktor yang sangat mempengaruhi terhadap kemiskinan patriotisme di Indonesia sekarang ini.
Pertama, dominasi militerisme yang terlalu kuat di jaman Orde Baru. Militerisme di jaman Orde Baru telah menggeser semangat patriotisme yang merakyat.
Slogan-slogan seperti semangat empat lima, persatuan dan kesatuan bangsa, telah dipakai untuk membenarkan segala tindakan yang pada dasarnya untuk kepentingan segelintir orang saja. Hutan-hutan sudah dikapling-kapling, penjarahan secara nasional terhadap aset-aset ekonomi, pengabaian norma-norma kemanusiaan telah dibenarkan oleh slogan-slogan yang sarat untuk
melindungi penguasa. Di sinilah tumbuhnya semangat "suhartoisme" yang memuja harta, kuasa dan pangkat merebak bagai virus yang menggerogoti seluruh sendi
kebangsaan kita.
Kedua, gelombang dahsyat kesadaran akan nilai hakiki kemanusiaan. Globalisasi tidak hanya membawa kepentingan para pemodal internasional, tetapi secara
positif mau tidak mau harus diakui telah menumbuhkan pula kesadaran global akan nilai-nilai kemanusiaan.
Segala isme- termasuk di sini jenis patriotisme sempit ala militer - yang diwarnai oleh genocide dan penindasan terhadap kemanusiaan telah dianggap musuh
dunia. Bagi rakyat Indonesia kiranya pengalaman sepanjang Orde Baru yang didominasi militer telah memberi pelajaran berharga tentang apa artinya
patriotisme sejati. Rakyat belajar mulai mengerti pengkhianatan-pengkhianatan yang sedang dilakukan para pemimpin dengan menginjak-injak hak-hak sipil. Rakyat justru sedang bergerak dalam pemahaman patriotisme yang menjunjung hak-hak asasi manusia.
Ketiga, dominasi kaum pengkhianat negeri yang kian merajalela. Kategori "pengkhianat" di sini dilawankan dengan kategori "patriot pelayan" bagi bangsa dan tanah air. Pengkhianat lebih mementingkan kepentingan kelompok dan kroninya daripada kepentingan seluruh rakyat. Tetapi, kondisi kesenjangan politis telah menempatkan rakyat pada posisi ketidakberdayaan.
Artinya sistem tetap memihak pada kepentingan kroni, partai dan kelompok tertentu daripada kepentingan umum. Kesenjangan yang demikian menimbulkan antipati masyarakat pada politik. Di samping itu, kekosongan gambaran patriotisme yang seharusnya dimainkan oleh para pemimpin dan elit politik kita kian makin kentara dan terasa.
Di Tiongkok kita juga bisa mengenal patriotisme ala kependekaran-pedang (swordmanship). Para pendekar pedang digambarkan juga sebagai orang-orang yang berjiwa luhur justru karena keberaniannya untuk membela rakyat dan negeri sampai sehabis-habisnya.
Pada umumnya gambaran seorang yang memiliki jiwa patriotis itu adalah orang-orang yang mencintai tanah airnya sampai titik darah penghabisan. Mereka tidak
hanya sekedar mencintai keluarga, sanak kadang dan kelompok kroninya, tetapi mencintai tanah air setuntas-tuntasnya. Artinya, mencintai tanah air tidak
hanya sekedar mencintai daerah, wilayah, pulau, negeri dalam arti geografis, tetapi lebih dari itu adalah mencintai rakyat seluruh negeri. Kebahagiaan seorang
patriot adalah kebahagiaan orang yang melihat kedamaian, kesejahteraan dan keadilan bagi seluruh rakyatnya.
Dalam upaya menumbuhkan patriotisme itu, di Indonesia pernah digembar-gemborkan semangat empat lima. Atau ada beberapa ahli yang menggalinya dari khasanah wayang Jawa dengan istilah Tri Pama (Tiga Teladan) yang menunjuk pada semangat patriotisme Kumbakarna, Sumantri dan Basukarna. Masih relevankah semangat empat lima, dan semangat "tri pama" bagi patriotisme
Indonesia di jaman globalisasi ini?
Kalau diambil saripati patriotisme sebagai semangat cinta tanah air dan seluruh rakyatnya, tentulah kita masih mengakui relevansinya. Tetapi pertanyaan yang
lebih urgen lagi bagi penulis adalah mengapa jiwa dan semangat patriotisme yang demikian terdengar asing di jaman kita ini? Mengapa semangat patriotisme yang
penuh pelayanan bagi keadilan, kesejahteraan dan perdamaian rakyat Indonesia tidak tumbuh subur?
Penulis melihat beberapa faktor yang sangat mempengaruhi terhadap kemiskinan patriotisme di Indonesia sekarang ini.
Pertama, dominasi militerisme yang terlalu kuat di jaman Orde Baru. Militerisme di jaman Orde Baru telah menggeser semangat patriotisme yang merakyat.
Slogan-slogan seperti semangat empat lima, persatuan dan kesatuan bangsa, telah dipakai untuk membenarkan segala tindakan yang pada dasarnya untuk kepentingan segelintir orang saja. Hutan-hutan sudah dikapling-kapling, penjarahan secara nasional terhadap aset-aset ekonomi, pengabaian norma-norma kemanusiaan telah dibenarkan oleh slogan-slogan yang sarat untuk
melindungi penguasa. Di sinilah tumbuhnya semangat "suhartoisme" yang memuja harta, kuasa dan pangkat merebak bagai virus yang menggerogoti seluruh sendi
kebangsaan kita.
Kedua, gelombang dahsyat kesadaran akan nilai hakiki kemanusiaan. Globalisasi tidak hanya membawa kepentingan para pemodal internasional, tetapi secara
positif mau tidak mau harus diakui telah menumbuhkan pula kesadaran global akan nilai-nilai kemanusiaan.
Segala isme- termasuk di sini jenis patriotisme sempit ala militer - yang diwarnai oleh genocide dan penindasan terhadap kemanusiaan telah dianggap musuh
dunia. Bagi rakyat Indonesia kiranya pengalaman sepanjang Orde Baru yang didominasi militer telah memberi pelajaran berharga tentang apa artinya
patriotisme sejati. Rakyat belajar mulai mengerti pengkhianatan-pengkhianatan yang sedang dilakukan para pemimpin dengan menginjak-injak hak-hak sipil. Rakyat justru sedang bergerak dalam pemahaman patriotisme yang menjunjung hak-hak asasi manusia.
Ketiga, dominasi kaum pengkhianat negeri yang kian merajalela. Kategori "pengkhianat" di sini dilawankan dengan kategori "patriot pelayan" bagi bangsa dan tanah air. Pengkhianat lebih mementingkan kepentingan kelompok dan kroninya daripada kepentingan seluruh rakyat. Tetapi, kondisi kesenjangan politis telah menempatkan rakyat pada posisi ketidakberdayaan.
Artinya sistem tetap memihak pada kepentingan kroni, partai dan kelompok tertentu daripada kepentingan umum. Kesenjangan yang demikian menimbulkan antipati masyarakat pada politik. Di samping itu, kekosongan gambaran patriotisme yang seharusnya dimainkan oleh para pemimpin dan elit politik kita kian makin kentara dan terasa.
Keempat, iklim
pendidikan kita yang sangat diwarnai sektarianisme. Iklim pendidikan yang
cenderung menjunjung nilai-nilai eksklusif kelompok saja tidak
akan menyuburkan bagi tumbuhnya semangat patriotisme sejati di bumi Indonesia. Sebaliknya, iklim pendidikan yang demikian hanya akan menyuburkan tumbuhnya para militan pengkhianat negeri. Sangat disayangkan, sekolah-sekolah yang sangat positif menumbuhkan semangat patriotisme Indonesia seperti Taman Siswa
malahan seperti kurang mendapat perhatian semestinya.
Sekolah-sekolah yang diselenggarakan oleh pemerintah telah menjadi ajang perebutan pengaruh kelompok sektarian.
Keempat faktor itu kiranya cukup memberikan alasan mengapa patriot-patriot sejati kini sangat jarang dilahirkan di bumi Indonesia. Kita mungkin butuh
mengembangkan semangat "samurai" atau "swordmanship" yang lebih menjawab tantangan jaman sekarang ini.
Semangat patriotisme semacam apa itu?
Penulis ingin menyebutnya semangat patriotisme kemanusiaan. Itulah kiranya yang sekarang ini sangatkita butuhkan. Semangat patriotisme kemanusiaan tidak
hanya menjadi monopoli sipil saja, tetapi juga bisa ditumbuhkan dalam tubuh tentara-tentara profesional kita. Semangat itu perlu ditandai oleh
karakter-karakter luhur seperti keberanian membela tanah air dan rakyat sehabis-habisnya, menjunjung nilai keadilan bagi segenap rakyat Indonesia,
menjunjung nilai perdamaian demi kesejahteraan seluruh rakyat Indonesia. Sebaliknya, karakter-karakter pengkhianat perlu dienyahkan dari generai para
pemimpin bangsa sekarang ini. Karakter-karakter itu antara lain penipu dan pendusta publik, korup dan sewenang-wenang, penyogok keadilan, antek keserakahan yang menyengsarakan rakyat. Masih bisa dijereng lebih
panjang lagi litani semangat patriotisme sejati dan litani virus karakter pengkhianat negeri.
Penulis masih memiliki harapan. Di tengah galau dan kacaunya negeri ini, takkan terhalau semangat patriotisme sejati dari bumi pertiwi. Semoga jiwa emas
pun lahir ditengah-tengah lumpur elit negeri ini.
17 Februari 2004
akan menyuburkan bagi tumbuhnya semangat patriotisme sejati di bumi Indonesia. Sebaliknya, iklim pendidikan yang demikian hanya akan menyuburkan tumbuhnya para militan pengkhianat negeri. Sangat disayangkan, sekolah-sekolah yang sangat positif menumbuhkan semangat patriotisme Indonesia seperti Taman Siswa
malahan seperti kurang mendapat perhatian semestinya.
Sekolah-sekolah yang diselenggarakan oleh pemerintah telah menjadi ajang perebutan pengaruh kelompok sektarian.
Keempat faktor itu kiranya cukup memberikan alasan mengapa patriot-patriot sejati kini sangat jarang dilahirkan di bumi Indonesia. Kita mungkin butuh
mengembangkan semangat "samurai" atau "swordmanship" yang lebih menjawab tantangan jaman sekarang ini.
Semangat patriotisme semacam apa itu?
Penulis ingin menyebutnya semangat patriotisme kemanusiaan. Itulah kiranya yang sekarang ini sangatkita butuhkan. Semangat patriotisme kemanusiaan tidak
hanya menjadi monopoli sipil saja, tetapi juga bisa ditumbuhkan dalam tubuh tentara-tentara profesional kita. Semangat itu perlu ditandai oleh
karakter-karakter luhur seperti keberanian membela tanah air dan rakyat sehabis-habisnya, menjunjung nilai keadilan bagi segenap rakyat Indonesia,
menjunjung nilai perdamaian demi kesejahteraan seluruh rakyat Indonesia. Sebaliknya, karakter-karakter pengkhianat perlu dienyahkan dari generai para
pemimpin bangsa sekarang ini. Karakter-karakter itu antara lain penipu dan pendusta publik, korup dan sewenang-wenang, penyogok keadilan, antek keserakahan yang menyengsarakan rakyat. Masih bisa dijereng lebih
panjang lagi litani semangat patriotisme sejati dan litani virus karakter pengkhianat negeri.
Penulis masih memiliki harapan. Di tengah galau dan kacaunya negeri ini, takkan terhalau semangat patriotisme sejati dari bumi pertiwi. Semoga jiwa emas
pun lahir ditengah-tengah lumpur elit negeri ini.
17 Februari 2004
No comments:
Post a Comment